Cara Menjelaskan Jurusanmu Ke Orang Tua Yang Gak Paham
Pernah ngerasa bingung waktu orang tua nanya,
“Jadi kamu kuliah jurusan apa sih?”
dan begitu kamu jawab, langsung muncul pertanyaan lanjutan yang bikin kepala panas:
“Itu nanti kerjanya jadi apa?”
Selamat, kamu gak sendiri. Banyak banget mahasiswa yang ngalamin hal yang sama, terutama kalau jurusannya gak “mainstream” kayak Kedokteran, Hukum, atau Teknik.
Buat orang tua yang tumbuh di era di mana kesuksesan diukur dari profesi “pasti”, mendengar anaknya kuliah Sastra, Filsafat, Desain, atau Hubungan Internasional bisa bikin mereka cemas.
Tapi tenang, kamu bisa banget bikin mereka ngerti — bahkan bangga — tanpa harus debat. Yuk, kita bahas cara menjelaskan jurusanmu ke orang tua yang gak paham dengan gaya halus tapi meyakinkan.
1. Pahami Dulu Kekhawatiran Mereka
Sebelum kamu mulai ngejelasin jurusanmu, penting buat ngerti dulu posisi mereka.
Orang tua gak paham jurusan kamu bukan karena mereka gak peduli, tapi karena:
- Mereka belum tahu dunia kerja zaman sekarang.
- Mereka pengen kamu hidup stabil dan gak susah cari kerja.
- Mereka mikir kuliah harus langsung nyambung ke profesi.
Jadi jangan langsung tersinggung waktu mereka tanya,
“Lulusan jurusan itu bisa kerja di mana?”
Itu bukan bentuk meremehkan — itu bentuk kekhawatiran orang tua. Dan begitu kamu ngerti maksud baik mereka, kamu bakal lebih sabar menjelaskan.
2. Gunakan Bahasa yang “Mereka Mengerti”
Jangan jelasin jurusanmu pakai istilah teknis yang cuma dipahami dosen dan teman sejurusan.
Misalnya kamu anak Sastra Inggris, jangan bilang:
“Kami menganalisis struktur naratif dan semiotika dalam karya klasik postmodern.”
Coba ubah jadi versi yang mereka bisa bayangin:
“Aku belajar cara memahami bahasa dan budaya supaya bisa kerja di bidang komunikasi, penerjemahan, atau dunia kreatif.”
Gunakan bahasa yang konkret dan relevan dengan pengalaman mereka. Semakin sederhana, semakin mudah diterima.
3. Jelaskan Dengan Contoh Nyata
Orang tua akan lebih mudah percaya kalau kamu kasih contoh nyata.
Misalnya kamu anak Desain Komunikasi Visual (DKV):
“Bu, anak DKV banyak yang kerja di perusahaan besar kayak bikin iklan, desain kemasan, sampai kerja di dunia digital marketing. Sekarang semua bisnis butuh visual yang bagus.”
Atau kamu anak Psikologi:
“Sekarang banyak perusahaan yang butuh orang psikologi buat HR, pengembangan karyawan, atau konseling di sekolah.”
Dengan contoh nyata, jurusanmu gak lagi terdengar “abstrak” di telinga mereka.
4. Kaitkan Jurusanmu dengan Profesi yang Mereka Kenal
Kalau kamu mau cepat bikin orang tua paham, sambungkan jurusanmu dengan pekerjaan yang udah familiar buat mereka.
Misalnya:
- Jurusan Ilmu Komunikasi → bisa kerja di bidang wartawan, marketing, atau humas.
- Jurusan Teknologi Pangan → bisa kerja di industri makanan besar kayak Indofood atau Nestlé.
- Jurusan Hubungan Internasional → bisa kerja di kementerian, perusahaan multinasional, atau NGO.
Buat mereka melihat bahwa jurusanmu punya jalur karier nyata, bukan cuma “belajar teori.”
5. Tunjukkan Passion, Bukan Pembenaran
Kadang orang tua skeptis bukan karena jurusanmu jelek, tapi karena kamu gak bisa meyakinkan mereka kalau kamu sungguh-sungguh.
Daripada sibuk ngotot bilang jurusanmu bagus, lebih baik tunjukkan semangatmu.
Misalnya:
“Aku tahu jurusanku belum terlalu familiar, tapi aku bener-bener suka dan mau serius di bidang ini. Aku udah punya rencana ke depannya.”
Orang tua lebih mudah percaya kalau mereka lihat api semangat di mata kamu, bukan cuma argumen.
6. Jelaskan Relevansi Jurusanmu di Dunia Modern
Zaman dulu, kerja cuma butuh gelar. Sekarang? Dunia kerja lebih cari skill.
Coba tunjukin gimana jurusanmu nyambung sama kebutuhan zaman sekarang.
Contoh:
- Anak Sastra Inggris bisa kerja di digital marketing, content creation, atau UX writing.
- Anak Filsafat bisa jadi analis, konsultan, atau penulis naskah film.
- Anak DKV bisa bikin brand identity perusahaan startup.
Tunjukkan ke orang tua bahwa jurusanmu bukan sekadar teori, tapi skill masa depan.
7. Bikin Peta Karier Sederhana
Kalau kamu pengen kelihatan meyakinkan banget, bikin peta karier kecil buat ditunjukin ke mereka.
Contohnya:
“Sekarang aku fokus kuliah dulu, sambil magang di semester 5. Nanti setelah lulus, aku mau kerja di agensi digital biar dapet pengalaman. Setelah itu, baru lanjut S2 atau bikin bisnis sendiri.”
Dengan peta karier kayak gini, orang tua bakal mikir:
“Oh, ternyata anakku punya arah dan gak asal pilih jurusan.”
8. Ceritakan Tokoh Sukses dari Jurusan yang Sama
Orang tua gampang kagum sama bukti nyata.
Kasih contoh tokoh sukses dari jurusanmu biar mereka makin yakin.
Misalnya:
- Sastra Inggris → Najwa Shihab (jurnalis & founder Narasi).
- Psikologi → Daniel Goleman (penulis Emotional Intelligence).
- Desain Grafis → Steve Jobs (walau dropout, dia paham desain dan user experience).
- Hubungan Internasional → Retno Marsudi (Menteri Luar Negeri RI).
Dengan cara ini, kamu kasih bukti bahwa jurusanmu bisa menghasilkan orang besar juga.
9. Hindari Nada Defensif atau Sombong
Waktu orang tua gak paham jurusanmu, wajar kalau kamu pengen “membuktikan” sesuatu. Tapi hati-hati — nada bicara yang defensif atau arogan malah bikin mereka makin skeptis.
Hindari kalimat kayak:
“Zaman sekarang gak kayak zaman Ibu, ini era digital!”
Ganti dengan kalimat yang lebih lembut dan menghargai:
“Iya, Bu, zaman sekarang beda banget ya. Tapi justru itu, jurusan ini bisa bantu aku lebih siap buat dunia kerja yang baru.”
Nada rendah tapi berisi jauh lebih efektif daripada debat.
10. Perlihatkan Hasil Nyata dari Jurusanmu
Kadang orang tua gak akan paham sampai mereka lihat bukti konkret.
Kalau kamu bisa, tunjukin hasil karyamu:
- Artikel yang kamu tulis.
- Desain yang kamu buat.
- Proyek kampus atau freelance yang kamu kerjakan.
Begitu mereka lihat hasil kerja nyata, mereka bakal mikir,
“Oh, ternyata anakku beneran bisa menghasilkan sesuatu dari jurusannya.”
Dan dari situ, kepercayaan mereka mulai tumbuh.
11. Kenalkan Mereka pada Dunia Kamu
Ajak orang tua pelan-pelan buat ngerti duniamu.
Misalnya:
- Ajak mereka datang ke pameran hasil karya kampus.
- Tunjukkan video atau artikel yang menjelaskan prospek jurusanmu.
- Ceritakan kegiatan kamu di kampus dengan bahasa yang ringan.
Tujuannya bukan biar mereka langsung paham 100%, tapi biar mereka merasa dilibatkan dalam perjalananmu.
Orang tua yang dilibatkan lebih mudah ikut bangga daripada yang cuma dikasih tahu hasil akhir.
12. Siapkan Kesabaran Ekstra
Ada tipe orang tua yang butuh waktu lebih lama buat paham.
Jadi, kamu harus siap sabar — mungkin butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sampai mereka benar-benar percaya.
Tapi seiring waktu, ketika mereka lihat kamu mulai produktif, bahagia, dan punya arah, mereka bakal berubah jadi pendukung nomor satu.
13. Kalau Tetap Gak Paham, Tunjukkan Lewat Tindakan
Kadang, kata-kata gak cukup.
Satu-satunya cara bikin orang tua percaya adalah dengan hasil nyata.
Misalnya:
- Dapat nilai bagus.
- Dapat pengalaman magang keren.
- Dapat penghasilan dari skill jurusanmu (freelance, project, atau part-time).
Begitu mereka lihat kamu mandiri dan sukses meski lewat jalan yang mereka gak pahami, semua penjelasan bakal terasa gak perlu lagi.
Karena hasil selalu jadi bahasa paling universal.
14. Jangan Pernah Minder Sama Pilihanmu
Mungkin kamu sering merasa kalah dibanding teman yang jurusannya “wah” di mata orang tua.
Tapi percayalah, setiap jurusan punya nilai dan peran.
Yang bikin jurusanmu berharga bukan nama jurusannya, tapi apa yang kamu lakukan dengan ilmunya.
Kalau kamu menekuni dengan sungguh-sungguh dan bisa ngasih dampak nyata, bahkan jurusan yang kelihatannya “gak jelas” bisa jadi luar biasa.
15. Ingat: Mereka Cuma Ingin Kamu Bahagia
Pada akhirnya, semua kekhawatiran dan pertanyaan orang tua itu cuma satu tujuannya:
Mereka pengen kamu punya masa depan yang aman dan bahagia.
Begitu mereka lihat kamu serius, bertanggung jawab, dan tetap waras dalam perjalanan kuliah, mereka bakal tenang.
Jadi gak perlu marah waktu mereka gak paham. Justru, pelan-pelan ajari mereka untuk ikut percaya sama kamu.
FAQ: Cara Menjelaskan Jurusanmu ke Orang Tua yang Gak Paham
1. Gimana kalau orang tua udah terlanjur gak setuju sama jurusan yang aku ambil?
Coba ajak bicara dengan tenang, tunjukkan prospek dan hasil nyata dari jurusanmu. Jangan debat, tapi beri waktu.
2. Apa aku harus nurutin keinginan orang tua pindah jurusan?
Kalau kamu yakin dengan pilihanmu dan punya arah jelas, pertahankan. Tapi tetap bicarakan dengan hormat.
3. Gimana kalau mereka tetap gak ngerti-ngerti juga?
Tunjukkan lewat prestasi dan tindakan nyata. Bukti lebih meyakinkan daripada penjelasan.
4. Apakah salah kalau orang tua gak ngerti jurusanku?
Enggak. Mereka tumbuh di masa yang beda, jadi wajar kalau belum familiar sama profesi baru di era digital.
5. Apa aku boleh ngerasa kecewa karena gak didukung?
Boleh, tapi jangan lama-lama. Gunakan rasa kecewa itu sebagai motivasi buat buktiin bahwa kamu bisa sukses dengan jalanmu sendiri.
6. Kapan waktu terbaik buat ngobrol soal ini sama orang tua?
Pilih waktu santai, bukan saat mereka sibuk atau emosi. Misalnya saat makan malam atau libur akhir pekan.
Kesimpulan
Menjelaskan jurusan ke orang tua yang gak paham bukan tentang “menang debat,” tapi tentang membangun jembatan pengertian.
Tunjukkan dengan sikap, bukti, dan semangat bahwa kamu tahu apa yang kamu lakukan.
Jangan takut kalau mereka belum paham sekarang — yang penting kamu terus maju dan nunjukin hasil.
Share this content:

Post Comment